02 Januari 2017

author photo
Apakah kalian masih ingat dengan kasus bunuh diri yang dilakukan oleh seorang pegawai yang tertekan karena harus kerja lembur 105 jam? Kasus tersebut bahkan sampai ramai dibicarakan. Sampai-sampai pemerintah Jepang membuat kebijakan baru agar hal serupa tak terjadi lagi. Tapi tetap saja. Kasus bunuh diri tersebut sudah terjadi. Tak ada yang bisa dilakukan untuk memutar kembali waktu dan mencegah Matsuri Takahashi bunuh diri.
Ilustrasi pemerinta jepang
Buntutnya, pemimpin perusahaan dari tempatnya bekerja memutuskan untuk mengundurkan diri. Ya, Tadashi Ishii, atasan dari Takahashi memutuskan untuk mengundurkan diri per Januari. Hal itu adalah bentuk rasa tanggung jawabnya terhadap pegawai yang ia pimpin. Di Negeri Sakura sana, kejadian seorang pemimpin mengundurkan diri ketika bawahannya tidak sejahtera sudah sering terjadi. Salah satu penyebabnya adalah kentalnya budaya malu yang ada di sana. Para pemimpin di Jepang malu saat kepemimpinannya tidak berhasil. Mereka malu saat hasil kepemimpinannya justru menyengsarakan banyak orang.
Asalnya dari budaya Harakiri yang populer di Jepang sejak zaman dulu. Dari sana warga Jepang belajar soal ‘malu’

Budaya harakiri
Kamu yang suka nonton anime atau mengamati hal-hal seputar Jepang pasti familiar dengan ‘Harakiri’ atau ‘Seppuku’. Bagi masyarakat Jepang, Harakiri adalah salah satu perwujudan rasa tanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Sejak era samurai, harakiri sudah sering dilakukan.

Para pemimpin dan samurai yang kalah dalam pertempuran lebih memilih untuk bunuh diri daripada menanggung malu seumur hidup. Samurai dan pemimpin tersebut malu karena telah gagal menjalankan tugasnya yang berakibat merugikan orang banyak. Berawal dari harakiri tersebut, budaya malu di Jepang terus mendarah daging hingga sekarang. Mereka malu dan perlu bertanggung jawab ketika tindakan mereka merugikan orang lain. Nah, perwujudan awalnya adalah dengan mengundurkan diri dari jabatan.

Contohnya banyak. Mulai dari pemimpin perusahaan sampai Perdana Menteri pernah mengundurkan diri ketika kebijakannya tak membuahkan hasil positif bagi rakyat

Sampai pedana mentri
Sudah bukan rahasia lagi kalau pengunduran diri di Jepang sudah sering terjadi. Mulai dari pemimpin perusahaan, pejabat pemerintahan hingga yang levelnya Perdana Menteri sudah sering berganti. Kasus terbaru adalah CEO perusahaan iklan besar Dentsu — tempat Matsuri Takahashi yang bunuh diri karena tertekan pekerjaan itu mencari nafkah. Ia memilih mundur dari jabatannya sebagai wujud pertanggungjawaban.

Pun demikian dengan Ryutaro Nonomura, salah satu anggota partai politik di Jepang yang sempat viral pada 2014 silam. Ia menangis tersedu-sedu kala menjelaskan soal skandal keuangan yang mencatut namanya. Bahkan kalau bicara data, dalam rentang 5 tahun, tercatat Jepang pernah 6 kali berganti kepemimpinan. Yang terakhir adalah Yoshihiko Noda yang mundur karena kekalahan partai yang dipimpinnya. Namun, yang paling diingat adalah mundurnya mantan Perdana Menteri Yukio Hayatoma karena ia merasa melanggar janji kampanyenya.

“Itu lebih karena kegagalan saya,” kata Hatoyama ketika mengumumkan pengunduran dirinya pasca ia tak mampu menepati janji kampanye menutup pangkalan militer AS di Okinawa pada 2010 silam. Keren nggak, tuh?
Di Indonesia, budaya seperti itu masih jarang ada. Mereka justru ngotot mempertahankan jabatan meski sudah terbukti salah

Jika di indonesia
Mungkin ada yang bilang bahwa, “Mundur karena gagal itu hal yang memang biasa. Kenapa dibesar-besarkan?” dan hal tersebut memang benar. Kalau orang berpikiran lurus, mereka pasti akan malu dan mundur saat mereka gagal dan merugikan banyak orang.

Sayangnya, budaya tersebut masih sangat jarang ada di Indonesia. Di negara kita tercinta ini, budaya malu sudah hampir hilang. Meski sudah terbukti salah pun, orang-orang Indonesia masih banyak yang malah ngotot dan merasa benar. Buktinya? Tengok saja politisi yang terjerat kasus di negara kita. Bukannya mengaku salah meminta maaf tapi malah ngotot bilang dia tak bersalah dengan senyum sok polos yang terpasang di mukanya.
Kalau mengaku salah artinya kalah. Kalau ngotot itu benar.

Hal-hal memalukan sudah dianggap biasa dan bukan perkara serius. Korupsi sudah dianggap biasa. Suap dan birokrasi ribet yang merugikan banyak orang dianggap wajar dan mereka nggak malu mengakuinya. Ah, sepertinya urat malu petinggi negara ini sudah diputus oleh uang. Kira-kira kapan ya budaya Indonesia mengenal makna ‘malu’ yang seperti itu. Tidak melihat semuanya dari sudut pandang menang-kalah, tapi justru lebih mengedepankan kepentingan banyak orang.

Baca Juga:

Jumlah 0 komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Selalu Mengikuti Peraturan. Kunjungi http://bit.ly/KomentarWU untuk mengetahui Kebijakan Komentar WowUniknya.net

Artikel Berikutya Next Post
Artikel Sebelumnya Previous Post

Baca Juga